James Rutherford Morison: Ahli Bedah yang Namanya Diabadikan dalam Pemeriksaan USG Abdomen

Legends Of Surgery (@SurgeryLegends) on X
James Rutherford Morison

Dalam dunia kedokteran, ada nama-nama yang mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki sejarah panjang di baliknya. Salah satunya adalah Morison’s pouch, istilah anatomi yang sangat dikenal oleh dokter bedah, dokter emergensi, dan radiolog ketika melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen.

Saat seorang pasien trauma datang ke instalasi gawat darurat, salah satu pertanyaan penting yang harus dijawab adalah apakah terdapat perdarahan di dalam rongga perut. Melalui pemeriksaan Focused Assessment with Sonography for Trauma (FAST), dokter dapat mencari cairan bebas di beberapa lokasi abdomen, termasuk ruang yang dikenal sebagai Morison’s pouch.

Namun, siapakah Morison yang namanya melekat pada ruang anatomi tersebut? Apakah ia seorang ahli radiologi yang mengembangkan pemeriksaan USG, atau justru seorang ahli bedah dari era ketika teknologi pencitraan modern belum ditemukan?

Jawabannya membawa kita kembali ke Inggris pada akhir abad ke-19, ketika seorang ahli bedah bernama James Rutherford Morison memberikan kontribusi penting terhadap anatomi bedah dan penanganan penyakit saluran empedu.

1. Siapakah James Rutherford Morison?

James Rutherford Morison lahir pada 10 Oktober 1853 di Hutton Henry, County Durham, Inggris. Ia merupakan seorang ahli bedah Inggris yang dikenal melalui kontribusinya dalam anatomi bedah, pembedahan saluran empedu, dan pengembangan teknik penanganan luka.

Morison menempuh pendidikan kedokteran di Mason’s College, Birmingham, sebelum menyelesaikan pendidikannya di University of Edinburgh pada 1874. Dalam perjalanan awal kariernya, ia bekerja sebagai surgical dresser di bawah Joseph Lister, pelopor penting penggunaan antisepsis dalam pembedahan.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan perubahan besar dalam dunia operasi. Pada masa itu, infeksi pascaoperasi masih menjadi salah satu tantangan utama bagi ahli bedah. Prinsip antisepsis yang diperkenalkan Lister membawa perubahan mendasar dalam upaya mengurangi komplikasi infeksi.

Morison kemudian mengembangkan karier bedahnya di Newcastle dan dikenal sebagai ahli bedah sekaligus pendidik yang berpengaruh. Pada 1910, ia diangkat menjadi profesor bedah di Newcastle, jabatan yang dipegangnya selama sebelas tahun.

Kontribusi Morison tidak hanya terbatas pada satu ruang anatomi. Ia juga mengembangkan pendekatan pembedahan yang membutuhkan paparan lapangan operasi luas, memperkenalkan insisi yang dikenal dengan namanya, serta mengembangkan BIPP (bismuth iodoform paraffin paste) untuk membantu penanganan luka terkontaminasi selama Perang Dunia I. 

2. Tahun 1894: Penemuan ruang anatomi di balik nama Morison’s pouch

Nama Morison menjadi abadi dalam anatomi ketika ia memublikasikan deskripsi mengenai ruang di bawah lobus kanan hati pada 1894.

Dalam artikel berjudul The Anatomy of Right Hypochondrium Relating Especially to Operations for Gall Stones, yang diterbitkan dalam British Medical Journal, Morison membahas anatomi daerah hipokondrium kanan, terutama hubungannya dengan operasi batu empedu.

Ia menjelaskan adanya ruang potensial di bawah hati yang penting dalam penanganan penyakit kandung empedu dan saluran empedu. Ruang ini menjadi perhatian khusus karena cairan yang terbentuk setelah operasi dapat berkumpul di sana.

Pada masa tersebut, pemeriksaan pencitraan seperti USG belum tersedia. Pemahaman mengenai ruang anatomi ini diperoleh melalui observasi langsung selama pembedahan, disertai penalaran anatomis dan pengalaman klinis.

Morison menekankan pentingnya drainase yang memadai pada ruang tersebut setelah operasi batu empedu. Baginya, pemahaman tentang anatomi dan pengelolaan cairan di area ini merupakan bagian penting dari keberhasilan pembedahan.

Deskripsi anatomis inilah yang kemudian membuat namanya diabadikan sebagai Morison’s pouch, yang juga dikenal sebagai hepatorenal recess atau reses hepatorenal.

3. Apa sebenarnya Morison’s pouch?

Morison’s pouch merupakan ruang potensial di antara permukaan inferior hati, terutama lobus kanan, dan bagian superior ginjal kanan. Ruang ini termasuk dalam bagian posterior kompartemen subhepatik rongga peritoneum.

Dalam keadaan normal, ruang tersebut tidak berisi kumpulan cairan bebas yang bermakna. Namun, ketika terjadi kondisi patologis, cairan dapat berkumpul di dalamnya.

Cairan tersebut dapat berupa:

  • Darah akibat trauma abdomen atau perdarahan intraabdomen.

  • Cairan asites pada pasien dengan penyakit hati atau kondisi lain yang menyebabkan penumpukan cairan.

  • Cairan inflamasi akibat proses peradangan atau infeksi di rongga perut.

  • Cairan patologis lain yang berasal dari proses penyakit intraabdomen.

Abdominal cavity<!-- --> - <!-- -->Knowledge<!-- --> @ AMBOSS

Posisi anatomisnya membuat Morison’s pouch menjadi salah satu lokasi penting dalam evaluasi cairan bebas di rongga peritoneum. Pada pasien yang berbaring telentang, cairan bebas dapat berkumpul di ruang ini karena pengaruh gravitasi dan distribusi cairan di rongga abdomen.

Meskipun demikian, Morison’s pouch bukan satu-satunya tempat berkumpulnya cairan. Cairan juga dapat ditemukan di ruang perihepatik lainnya, sekitar limpa, di sepanjang parakolika, maupun di pelvis.

Ultrasound for Trauma | 2015-12-10 | AHC Media:… | Clinician.com

Pemahaman mengenai hubungan anatomi tersebut membantu dokter menafsirkan temuan pencitraan secara lebih tepat. 

4. Dari meja operasi ke layar USG

Salah satu hal menarik dalam sejarah Morison’s pouch adalah bagaimana sebuah deskripsi anatomi dari era pembedahan konvensional kemudian menjadi bagian penting dari pemeriksaan pencitraan modern.

Ketika teknologi ultrasonografi berkembang, dokter memperoleh kemampuan untuk melihat organ dan ruang di dalam abdomen tanpa harus melakukan operasi. Morison’s pouch menjadi salah satu area yang diperiksa untuk mencari cairan bebas, terutama pada pasien dengan trauma.

Dalam pemeriksaan USG, hati berfungsi sebagai jendela akustik yang membantu visualisasi ginjal kanan dan ruang di antaranya. Apabila terdapat cairan bebas, cairan tersebut dapat tampak sebagai area relatif anekoik atau berwarna gelap di antara permukaan hati dan ginjal.

Temuan ini harus dibedakan dari struktur normal, lemak perirenal, pembuluh darah, dan struktur lain yang dapat menyerupai cairan. Karena itu, interpretasi hasil USG membutuhkan pemahaman anatomi serta teknik pemeriksaan yang baik.

Dengan demikian, Morison’s pouch bukanlah temuan yang diciptakan oleh teknologi USG. Ruang tersebut telah dikenal melalui anatomi bedah jauh sebelum ultrasonografi digunakan dalam praktik klinis.

Teknologi modern justru memungkinkan dokter memanfaatkan pengetahuan anatomi yang dideskripsikan Morison untuk mendeteksi kelainan secara lebih cepat dan noninvasif.

5. Morison’s pouch dalam pemeriksaan FAST pada pasien trauma

Bagi dokter bedah dan dokter emergensi, Morison’s pouch memiliki arti khusus dalam pemeriksaan FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma).

FAST merupakan pemeriksaan USG terarah yang digunakan untuk mencari cairan bebas pada pasien trauma, terutama ketika dicurigai adanya perdarahan internal.

Dalam pemeriksaan FAST konvensional, dokter mengevaluasi beberapa area utama, meliputi:

  1. Ruang perikardium untuk mencari cairan di sekitar jantung.

  2. Kuadran kanan atas abdomen, termasuk Morison’s pouch dan ruang perihepatik.

  3. Kuadran kiri atas abdomen, termasuk area perisplenik.

  4. Pelvis untuk mencari cairan bebas di bagian bawah rongga peritoneum.

Morison’s pouch menjadi salah satu lokasi penting karena cairan bebas dapat terkumpul di antara hati dan ginjal kanan pada pasien yang berbaring telentang.

Pada pasien trauma dengan kondisi hemodinamik tidak stabil, ditemukannya cairan bebas dapat memperkuat kecurigaan terhadap perdarahan intraabdomen dan membantu pengambilan keputusan klinis secara cepat.

Namun, pemeriksaan FAST memiliki keterbatasan. Hasil negatif tidak selalu menyingkirkan perdarahan intraabdomen, terutama pada tahap awal trauma atau ketika volume cairan masih sedikit. Hasil positif juga harus ditafsirkan bersama kondisi hemodinamik, mekanisme cedera, pemeriksaan klinis, dan temuan pencitraan lainnya.

Dengan kata lain, Morison’s pouch merupakan salah satu jendela diagnostik yang penting, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan tindakan operasi.

6. Mengapa Morison’s pouch penting dalam praktik bedah modern?

Pentingnya Morison’s pouch tidak terbatas pada kasus trauma. Ruang ini juga relevan dalam evaluasi berbagai penyakit abdomen.

Pada pasien dengan asites, cairan dapat ditemukan di ruang hepatorenal. Pada pasien dengan infeksi intraabdomen, kumpulan cairan atau abses dapat melibatkan area subhepatik. Pada penyakit keganasan, ruang peritoneum juga dapat menjadi lokasi penyebaran penyakit.

Dalam praktik bedah, pemahaman tentang ruang ini membantu dokter menilai distribusi cairan, memahami jalur penyebaran proses patologis, serta merencanakan pendekatan diagnostik dan terapeutik.

Bagi dokter yang sedang mempelajari USG abdomen, mengenali Morison’s pouch merupakan bagian penting dari pemahaman anatomi sonografis kuadran kanan atas.

Bagi dokter bedah, ruang tersebut mengingatkan bahwa pengetahuan anatomi yang baik tidak hanya diperlukan saat melakukan operasi, tetapi juga ketika menilai kondisi pasien sebelum keputusan pembedahan dibuat.

7. Warisan James Rutherford Morison

James Rutherford Morison meninggal pada 9 Januari 1939. Meskipun telah berlalu lebih dari satu abad sejak publikasi anatomisnya pada 1894, namanya masih digunakan dalam pendidikan kedokteran dan praktik klinis.

Kontribusinya menunjukkan bahwa penemuan penting dalam kedokteran tidak selalu harus berupa teknologi baru atau prosedur yang rumit. Pengamatan yang cermat terhadap anatomi, pemahaman mengenai hubungan antarstruktur, dan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut untuk memperbaiki perawatan pasien dapat menghasilkan warisan ilmiah yang bertahan lama.

Menariknya, Morison bukan ahli radiologi dan tidak pernah menyaksikan penggunaan USG seperti yang kita kenal saat ini. Namun, deskripsi ruang anatomi yang ia tulis berdasarkan pengalaman pembedahan kemudian menjadi bagian penting dari pemeriksaan ultrasonografi modern.

Inilah salah satu contoh bagaimana ilmu anatomi klasik terus hidup di tengah perkembangan teknologi kedokteran.

Penutup: Sebuah Ruang Kecil dengan Peran Besar

Morison’s pouch mungkin hanya merupakan ruang potensial di antara hati dan ginjal kanan. Namun, dalam keadaan tertentu, ruang ini dapat menyimpan petunjuk penting mengenai kondisi pasien, mulai dari perdarahan akibat trauma hingga proses patologis lain di rongga abdomen.

James Rutherford Morison mengabadikan namanya bukan melalui penemuan mesin pencitraan, melainkan melalui pengamatan anatomis dan pemahaman bedah yang mendalam.

Lebih dari seratus tahun kemudian, dokter masih mencari ruang tersebut melalui layar USG ketika mengevaluasi pasien trauma. Perjalanan dari deskripsi anatomi pada 1894 menuju penggunaannya dalam FAST menunjukkan bahwa pengetahuan kedokteran yang dibangun dengan teliti dapat melampaui zamannya.

Di balik setiap eponim medis, selalu ada sejarah tentang manusia, pengamatan, dan upaya memahami tubuh manusia dengan lebih baik. Morison’s pouch adalah salah satu pengingat bahwa anatomi klasik tetap menjadi fondasi bagi praktik kedokteran modern.


Referensi

  1. Morison JR. The anatomy of right hypochondrium relating especially to operations for gall stones. British Medical Journal. 1894;2:968–971.

  2. Gilliam JW Jr, Schein CJ. The Morison Pouch. Archives of Surgery. 1976;111(3):227–228. https://doi.org/10.1001/archsurg.1976.01360210021003

  3. Nassar S, Menias CO, Nada A, et al. Morison’s pouch: anatomical review and evaluation of pathologies and disease spread on cross-sectional imaging. Abdominal Radiology. 2020;45:2315–2326. https://doi.org/10.1007/s00261-020-02597-1

  4. Royal College of Surgeons of Edinburgh. James Rutherford Morison: Surgeon Database. https://archiveandlibrary.rcsed.ac.uk/surgeon/3770754-james-rutherford-morison

  5. LITFL. Rutherford Morison pouch. https://litfl.com/rutherford-morison-pouch/

=================================

Keep learning. Keep growing. Keep sharing.

— dr. Ahmad Setyadi
Long-Life Learner


Dukung Blog Ini

Kalau artikel ini bermanfaat, kamu bisa 'traktir' kopi atau kasih dukungan lewat Saweria untuk bantu blog ini terus berkembang!

KLIK DI SINI

Comments