Dr. Morio Kasai: Sang Ahli Bedah yang Mengubah Nasib Bayi dengan Atresia Bilier

Dr. Morio Kasai

Bayangkan seorang bayi yang baru lahir dengan kulit dan mata menguning. Fesesnya pucat, hatinya membesar, dan gangguan pada saluran empedu perlahan mengancam fungsi hatinya. Pada masa lalu, kondisi seperti ini sering kali menjadi awal dari perjalanan penyakit yang berakhir tragis.

Namun, seorang ahli bedah anak dari Jepang bernama Morio Kasai mengubah cerita tersebut. Melalui sebuah inovasi bedah yang kemudian dikenal sebagai Kasai procedure, ia membuka harapan baru bagi bayi-bayi yang lahir dengan atresia bilier—penyakit yang dahulu nyaris tidak memiliki pilihan pengobatan efektif.

Siapakah Morio Kasai?

1922–2008 · Jepang · Pelopor bedah anak

Morio Kasai lahir pada tahun 1922 di Prefektur Aomori, Jepang. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Tohoku University dan kemudian mengabdikan sebagian besar kariernya untuk mengembangkan ilmu bedah, khususnya bedah pada bayi dan anak-anak.

Kasai bukan hanya seorang operator yang terampil. Ia juga seorang peneliti dan pendidik yang berperan penting dalam perkembangan bedah anak sebagai bidang keahlian tersendiri di Jepang. Pada tahun 1963, ia menjadi profesor sekaligus kepala departemen bedah di Tohoku University.

Namanya kemudian dikenal luas di dunia kedokteran karena satu terobosan besar: operasi untuk membantu mengatasi atresia bilier pada bayi. Meski demikian, kontribusinya sebenarnya jauh lebih luas daripada satu prosedur yang menyandang namanya.


Atresia bilier: ketika saluran empedu tidak berfungsi

Biliary Atresia
 - Gastroenterology | UWorld Medical Library

Sebelum memahami penemuan Kasai, kita perlu mengenal penyakit yang menjadi latar belakangnya.

Empedu diproduksi oleh hati dan dialirkan melalui saluran empedu menuju usus. Cairan ini membantu pencernaan lemak sekaligus menjadi jalur bagi tubuh untuk membuang bilirubin dan sejumlah zat lainnya.

Pada atresia bilier (biliary atresia), saluran empedu mengalami kerusakan dan penyumbatan atau tidak terbentuk dengan baik sehingga aliran empedu terganggu. Empedu kemudian tertahan di hati dan dapat menyebabkan kerusakan hati progresif, fibrosis, hingga sirosis.

Gejalanya bisa tampak sederhana pada awalnya, seperti bayi yang tetap kuning setelah periode kuning fisiologis seharusnya membaik. Namun, tanda lain seperti feses berwarna pucat seperti dempul dan urine gelap tidak boleh diabaikan.

Pada era sebelum prosedur Kasai berkembang, atresia bilier merupakan penyakit yang sangat mematikan. Tantangan terbesarnya adalah kenyataan bahwa pada banyak bayi, saluran empedu di luar hati sudah berubah menjadi jaringan fibrotik sehingga tidak tersedia saluran normal yang bisa disambungkan ke usus.


Dari ruang operasi lahirlah sebuah terobosan

Surgery

Pada tahun 1955, Kasai melakukan operasi pada seorang bayi berusia sekitar 72 hari yang menderita atresia bilier. Saat operasi, ia menghadapi persoalan yang sangat sulit: saluran empedu yang diharapkan dapat ditemukan ternyata tidak tersedia dalam bentuk normal.

Alih-alih menyerah pada anggapan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diperbaiki, Kasai mencoba pendekatan berbeda. Ia berupaya mencapai jaringan di daerah porta hepatis, yaitu bagian hati tempat pembuluh darah dan saluran empedu masuk atau keluar.

Dalam sejumlah catatan sejarah mengenai prosedur ini, diceritakan bahwa ketika terjadi perdarahan saat diseksi, usus digunakan untuk menutupi daerah tersebut. Setelah operasi, tim medis mendapati empedu mulai muncul dalam feses bayi. Temuan itu menjadi petunjuk penting bahwa masih terdapat saluran-saluran empedu mikroskopis yang dapat mengalirkan empedu dari hati.

Pengalaman klinis tersebut menjadi bagian dari perkembangan teknik yang kemudian dikenal sebagai hepatoportoenterostomy atau prosedur Kasai. Laporan mengenai teknik ini diterbitkan dalam literatur Jepang pada tahun 1959.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kemajuan kedokteran tidak selalu lahir dari teknologi canggih. Terkadang, kemajuan dimulai ketika seorang dokter berani mempertanyakan anggapan bahwa suatu penyakit tidak mungkin ditangani.

Apa sebenarnya prosedur Kasai?

Biliary atresia | Nature Reviews Disease Primers
Secara sederhana, prosedur Kasai bertujuan membuat jalur baru agar empedu dari hati dapat mengalir menuju usus, meskipun saluran empedu normal di luar hati telah mengalami kerusakan atau tertutup.

Pada prosedur ini, ahli bedah mengangkat sisa jaringan saluran empedu yang mengalami fibrosis hingga mencapai daerah porta hepatis. Selanjutnya, bagian usus halus—umumnya jejunum—disambungkan ke daerah tersebut menggunakan teknik rekonstruksi Roux-en-Y.

Dengan demikian, empedu yang masih dapat keluar melalui saluran-saluran mikroskopis di daerah tersebut memiliki jalur menuju usus.

Prosedur ini bukanlah operasi yang memperbaiki saluran empedu menjadi normal kembali. Tujuannya adalah memulihkan aliran empedu sebanyak mungkin, mengurangi kolestasis, dan mempertahankan fungsi hati selama mungkin.

Apakah prosedur Kasai dapat menyembuhkan atresia bilier?

Jawabannya: prosedur Kasai dapat memberikan kesempatan besar bagi bayi untuk bertahan hidup dengan hati aslinya, tetapi tidak selalu menjadi pengobatan definitif.

Keberhasilannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia saat operasi, kondisi hati, derajat kerusakan saluran empedu, dan pengalaman tim bedah.

Pada sebagian bayi, aliran empedu membaik dan warna kuning berangsur menghilang. Namun, sebagian lainnya tetap mengalami kerusakan hati progresif, kolangitis, atau komplikasi sirosis sehingga akhirnya membutuhkan transplantasi hati.

Karena itu, prosedur Kasai dan transplantasi hati bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan. Keduanya merupakan bagian dari rangkaian penanganan atresia bilier. Kasai berupaya mempertahankan hati asli, sedangkan transplantasi menjadi pilihan ketika fungsi hati tidak dapat dipertahankan secara memadai.

Satu hal yang sangat penting adalah waktu. Evaluasi dan diagnosis dini sangat menentukan kesempatan bayi memperoleh manfaat dari operasi ini. Bayi yang mengalami kuning berkepanjangan, terutama disertai feses pucat dan urine gelap, perlu segera dievaluasi oleh tenaga medis.

Mengapa dunia kedokteran tidak langsung menerima penemuannya?

Menariknya, inovasi Kasai tidak serta-merta mendapatkan pengakuan internasional.

Prosedur ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Jepang pada 1959, sedangkan laporan berbahasa Inggris yang membantu memperkenalkannya kepada dunia internasional baru muncul pada 1968. Pada awalnya, sejumlah ahli bedah di luar Jepang kesulitan mereproduksi hasil yang dilaporkan Kasai.

Teknik tersebut memang menuntut ketelitian tinggi, pemahaman anatomi hati bayi, serta pengalaman dalam melakukan diseksi di daerah porta hepatis. Seiring semakin banyak ahli bedah mempelajari tekniknya secara langsung dan menyempurnakan pelaksanaannya, keberhasilan operasi mulai dilaporkan di berbagai negara.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa sebuah inovasi medis tidak cukup hanya ditemukan. Inovasi juga harus diuji, dipahami, diajarkan, dan dibuktikan dapat memberikan hasil yang konsisten.


Warisan Morio Kasai bagi generasi dokter bedah

Morio Kasai meninggal dunia pada tahun 2008 dalam usia 86 tahun. Ia dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan bedah anak modern.

Warisan terbesarnya bukan sekadar sebuah operasi yang menggunakan namanya. Ia menunjukkan bahwa penyakit yang dahulu dianggap tidak dapat dikoreksi masih mungkin memiliki jalan keluar jika dokter bersedia mempelajari masalahnya lebih dalam dan mencoba pendekatan baru berdasarkan pengamatan klinis.

Bagi dokter bedah, kisah Kasai mengandung pelajaran yang sangat relevan: anatomi dan teknik operasi memang penting, tetapi kemampuan mengamati, berpikir kritis, melakukan penelitian, dan belajar dari hasil tindakan juga merupakan bagian dari seni bedah.

Ada satu hal yang menarik: prosedur itu kini dikenal di seluruh dunia sebagai Kasai procedure, meskipun catatan biografis menyebutkan bahwa Kasai sendiri tidak menginginkan operasi tersebut terlalu melekat pada namanya. Terlepas dari persoalan eponim itu, kontribusinya tetap hidup dalam praktik bedah anak hingga hari ini.

Penutup: satu nama, ribuan harapan

Dalam dunia kedokteran, kita mengenal banyak nama dokter yang diabadikan menjadi tanda pemeriksaan, klasifikasi penyakit, atau prosedur operasi. Namun, di balik setiap nama tersebut, biasanya ada perjalanan panjang yang dipenuhi pertanyaan, kegagalan, pengamatan, dan keberanian untuk mencoba.

Morio Kasai adalah salah satu contohnya. Melalui prosedur yang ia kembangkan, atresia bilier berubah dari kondisi yang hampir selalu berakhir fatal menjadi penyakit yang memiliki pilihan penanganan bedah dan, bila diperlukan, transplantasi hati.

Bagi seorang dokter, inovasi bukan selalu tentang menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi berarti menemukan kemungkinan ketika orang lain hanya melihat jalan buntu.

Referensi untuk bacaan lebih lanjut

  1. Morio Kasai: A Remarkable Impact Beyond the Kasai Procedure — Journal of Pediatric Surgery, 2012.

  2. Morio Kasai Corrects the Uncorrectable: Hepatic Portoenterostomy for Biliary Atresia — Journal of Pediatric Surgery, 2024.

  3. Biliary Atresia: 50 Years after the First Kasai — ulasan mengenai perkembangan tata laksana atresia bilier.

=================================

Keep learning. Keep growing. Keep sharing.

— dr. Ahmad Setyadi
Long-Life Learner

Dukung Blog Ini

Kalau artikel ini bermanfaat, kamu bisa 'traktir' kopi atau kasih dukungan lewat Saweria untuk bantu blog ini terus berkembang!

KLIK DI SINI

Comments