Charles McBurney: Ahli Bedah yang Namanya Diabadikan sebagai Titik Penting dalam Diagnosis Apendisitis


Pernahkah Anda mendengar istilah McBurney’s point ketika mempelajari pemeriksaan fisik abdomen? Bagi mahasiswa kedokteran, dokter umum, maupun dokter bedah, istilah ini tentu sudah tidak asing lagi. Titik yang terletak di perut kanan bawah tersebut menjadi salah satu penanda klinis penting dalam mengevaluasi pasien dengan dugaan apendisitis akut atau radang usus buntu.

Namun, siapakah sosok di balik nama tersebut? Ia adalah Charles Heber McBurney (1845–1913), seorang ahli bedah asal Amerika Serikat yang memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan diagnosis dan penanganan apendisitis pada akhir abad ke-19. Selain dikenal melalui McBurney’s point, namanya juga diabadikan dalam teknik sayatan operasi yang dikenal sebagai McBurney’s incision. [1–3]

1. Charles Heber McBurney: Perjalanan Seorang Ahli Bedah

Charles Heber McBurney lahir pada 17 Februari 1845 di Roxbury, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Harvard College sebelum melanjutkan pendidikan kedokterannya di College of Physicians and Surgeons, New York, yang kini menjadi bagian dari Columbia University. Ia memperoleh gelar dokter pada tahun 1870.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, McBurney menjalani pelatihan klinis di Bellevue Hospital, New York. Ia kemudian memperdalam pengetahuan bedahnya melalui perjalanan pendidikan ke sejumlah pusat kedokteran terkemuka di Eropa, termasuk Paris, Wina, dan London.

Sekembalinya ke Amerika Serikat, McBurney mengembangkan kariernya di New York. Pada tahun 1880, ia diangkat menjadi asisten ahli bedah di Bellevue Hospital. Delapan tahun kemudian, ia menjabat sebagai kepala ahli bedah di Roosevelt Hospital, sebuah rumah sakit yang berperan penting dalam perjalanan kariernya.

McBurney dikenal sebagai seorang ahli bedah yang menaruh perhatian besar pada pengamatan klinis, ketepatan diagnosis, dan intervensi bedah yang dilakukan pada waktu yang tepat. Perhatiannya terhadap penyakit apendiks kemudian melahirkan dua warisan penting dalam dunia kedokteran: McBurney’s point dan McBurney’s incision. [1,2]

2. Mengapa Apendisitis Menjadi Persoalan Besar pada Abad ke-19?

Untuk memahami kontribusi McBurney, kita perlu melihat kondisi dunia kedokteran pada masanya.

Pada abad ke-19, penyakit yang sekarang dikenal sebagai apendisitis akut belum sepenuhnya dipahami seperti saat ini. Peradangan di sekitar sekum dan apendiks sering digambarkan menggunakan istilah yang berbeda-beda, seperti typhlitis dan perityphlitis. Diagnosis juga menjadi tantangan karena dokter belum memiliki teknologi pencitraan modern seperti ultrasonografi dan CT scan.

Ketika pasien mengalami nyeri perut kanan bawah, dokter harus mengandalkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, serta pengamatan terhadap perjalanan gejala. Keterlambatan mengenali penyakit dapat berujung pada perforasi apendiks, pembentukan abses, peritonitis, dan kematian.

Pada tahun 1886, ahli patologi Amerika Serikat, Reginald Heber Fitz, memopulerkan istilah appendicitis dan menekankan pentingnya mengenali apendiks sebagai sumber penyakit tersebut. Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam pemahaman dan penanganan radang usus buntu.

Dalam periode yang sama, McBurney berkontribusi dengan mengembangkan pendekatan klinis yang membantu dokter mengenali lokasi nyeri tekan yang khas pada pasien dengan dugaan apendisitis akut. [2,3]

3. Tahun 1889: Lahirnya McBurney’s Point

Tonggak penting dalam karier McBurney terjadi pada tahun 1889. Ia mempresentasikan pengalamannya dalam penanganan operatif dini terhadap penyakit apendiks, yang kemudian diterbitkan dalam makalah berjudul Experience with Early Operative Interference in Cases of Disease of the Vermiform Appendix.

Dalam makalah tersebut, McBurney menjelaskan bahwa lokasi nyeri tekan paling hebat pada pasien dengan apendisitis sering ditemukan pada suatu titik tertentu di perut kanan bawah. Pengamatan ini didasarkan pada pengalaman klinis dan temuan selama operasi.

McBurney mendeskripsikan lokasi tersebut sekitar 1,5–2 inci dari anterior superior iliac spine (ASIS), mengikuti garis yang menghubungkan tonjolan tulang panggul kanan tersebut dengan umbilikus atau pusar.

Deskripsi inilah yang kemudian dikenal sebagai McBurney’s point. [1–3]

Menariknya, deskripsi asli McBurney tidak sepenuhnya sama dengan definisi yang lazim diajarkan dalam buku anatomi dan pemeriksaan fisik modern.

Saat ini, McBurney’s point umumnya dijelaskan sebagai titik pada pertemuan sepertiga bagian lateral dan dua pertiga bagian medial garis yang menghubungkan ASIS kanan dengan umbilikus. Dengan kata lain, titik tersebut terletak sekitar sepertiga jarak dari ASIS kanan menuju pusar.

Perbedaan ini merupakan salah satu detail sejarah yang menarik: istilah yang dikenal luas saat ini berkembang dari pengamatan klinis McBurney, tetapi lokasi anatomisnya kemudian dirumuskan secara lebih sederhana untuk keperluan pendidikan kedokteran.

4. Apa Makna Klinis McBurney’s Point?

McBurney’s point memiliki arti penting dalam pemeriksaan pasien dengan nyeri perut kanan bawah.

Pada apendisitis akut, pasien dapat mengalami nyeri yang pada awalnya terasa samar di sekitar umbilikus, kemudian berpindah dan lebih terlokalisasi di perut kanan bawah. Perubahan ini berkaitan dengan perjalanan proses inflamasi dan keterlibatan peritoneum parietal.

Ketika dokter melakukan palpasi abdomen, nyeri tekan di daerah McBurney’s point dapat meningkatkan kecurigaan terhadap apendisitis akut.

Namun, ada satu hal yang perlu dipahami: nyeri tekan pada McBurney’s point bukanlah bukti tunggal yang memastikan diagnosis apendisitis. Tidak semua pasien apendisitis menunjukkan nyeri tekan tepat pada titik tersebut. Letak apendiks yang bervariasi, termasuk posisi retrosekal atau pelvis, dapat memengaruhi lokasi dan karakteristik nyeri.

Oleh karena itu, pemeriksaan ini harus diinterpretasikan bersama riwayat penyakit, gejala lain, pemeriksaan fisik secara menyeluruh, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan apabila diperlukan.

Di era modern, ultrasonografi dan CT scan membantu meningkatkan ketepatan diagnosis. Meski demikian, pemeriksaan fisik tetap menjadi bagian penting dalam evaluasi awal pasien dengan dugaan apendisitis.[3,4]

5. McBurney’s Incision: Warisan Kedua dalam Dunia Bedah

Kontribusi McBurney tidak berhenti pada diagnosis. Ia juga dikenal melalui teknik sayatan operasi untuk mencapai apendiks.

Pada tahun 1894, McBurney memublikasikan pendekatan operasi yang menggunakan sayatan di perut kanan bawah dengan pemisahan serabut otot dinding abdomen, bukan memotong seluruh serabut otot secara langsung. Pendekatan ini dikenal sebagai McBurney’s incision atau sayatan gridiron.

Prinsip teknik tersebut adalah memberikan akses menuju apendiks melalui pemisahan lapisan otot yang sesuai dengan arah serabutnya. Teknik ini dirancang untuk memberikan akses bedah yang memadai sekaligus mengurangi kerusakan jaringan dinding perut.

Meskipun demikian, penting dicatat bahwa McBurney bukan satu-satunya tokoh dalam sejarah perkembangan sayatan ini. Lewis L. MacArthur juga telah mendeskripsikan pendekatan sayatan serupa pada tahun 1894. Karena itu, sejarah teknik ini merupakan bagian dari perkembangan pengetahuan bedah pada masa tersebut, bukan semata-mata hasil karya satu orang. [2,3]

Saat ini, operasi apendisitis dapat dilakukan melalui pendekatan terbuka maupun laparoskopi. Sayatan McBurney tetap penting secara historis dan masih relevan dalam pendidikan bedah, khususnya ketika mempelajari anatomi dinding abdomen serta teknik akses ke regio iliaka kanan.

6. McBurney dan Perkembangan Bedah Modern

Pada masa McBurney, keputusan untuk melakukan operasi sangat bergantung pada keterampilan klinis dokter dalam mengenali gejala dan tanda fisik. Kemampuan mengidentifikasi lokasi nyeri tekan menjadi salah satu alat bantu untuk menentukan kemungkinan penyakit apendiks dan mempertimbangkan intervensi bedah.

Kini, perkembangan ilmu bedah telah membawa perubahan besar. Pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi, CT scan, antibiotik, anestesi modern, serta teknik laparoskopi telah memperluas pilihan diagnosis dan terapi bagi pasien apendisitis.

Walaupun demikian, prinsip yang diwariskan McBurney masih relevan: pengamatan klinis yang cermat dan pengenalan tanda penyakit secara dini dapat membantu dokter mengambil keputusan yang tepat.

Warisan McBurney juga mengingatkan kita bahwa banyak istilah medis yang digunakan setiap hari berawal dari pengamatan sederhana, pengalaman klinis, dan keberanian seorang dokter untuk mendokumentasikan temuannya secara sistematis.

Charles Heber McBurney meninggal pada 7 November 1913. Lebih dari satu abad setelah kontribusinya dipublikasikan, namanya masih dikenal di ruang kuliah anatomi, ruang pemeriksaan, dan kamar operasi di berbagai belahan dunia. [1,2]

7. Penutup: Sebuah Titik Kecil dengan Sejarah Besar

McBurney’s point mungkin hanya berupa satu titik pada permukaan abdomen. Namun, di balik titik tersebut tersimpan sejarah panjang perkembangan ilmu bedah, ketika para dokter berusaha memahami penyakit apendiks dengan keterbatasan teknologi yang tersedia.

Charles Heber McBurney tidak hanya meninggalkan nama yang dihafalkan oleh mahasiswa kedokteran. Ia turut membentuk cara dokter menghubungkan temuan pemeriksaan fisik dengan kemungkinan diagnosis dan kebutuhan intervensi bedah.

Hari ini, ketika seorang dokter memeriksa nyeri tekan pada perut kanan bawah pasien, ia sedang menggunakan salah satu bagian dari warisan pemeriksaan klinis yang berkembang sejak abad ke-19.

McBurney’s point menjadi pengingat bahwa dalam dunia kedokteran, sebuah pengamatan yang teliti dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa hidup penemunya.


Referensi

  1. Thiery M. Charles McBurney (1845–1913) and McBurney’s point. Gynecological Surgery. 2009;6:411–413. Baca artikel.

  2. Grover CA, Sternbach G. Charles McBurney: McBurney’s point. The Journal of Emergency Medicine. 2012;42(5):578–581. doi:10.1016/j.jemermed.2011.06.039. Baca abstrak di PubMed.

  3. Taylor CR, et al. Abdominal Physical Signs and Medical Eponyms: Physical Examination of Palpation Part 1, 1876–1907. Baca artikel lengkap di PubMed Central.

  4. Acute appendicitis and its treatment: a historical overview. International Journal of Colorectal Disease. Baca artikel lengkap.

=================================

Keep learning. Keep growing. Keep sharing.

— dr. Ahmad Setyadi
Long-Life Learner


Dukung Blog Ini

Kalau artikel ini bermanfaat, kamu bisa 'traktir' kopi atau kasih dukungan lewat Saweria untuk bantu blog ini terus berkembang!

KLIK DI SINI

Comments