Hakaru Hashimoto: Dokter yang Namanya Diabadikan dalam Penyakit Tiroid Hashimoto

Hakaru Hashimoto

Ketika mendengar istilah Hashimoto thyroiditis, sebagian besar dokter langsung menghubungkannya dengan penyakit autoimun pada kelenjar tiroid yang dapat menyebabkan hipotiroidisme. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik nama tersebut terdapat seorang dokter dan ahli bedah Jepang bernama Hakaru Hashimoto, yang lebih dari satu abad lalu menemukan gambaran penyakit tersebut melalui pemeriksaan jaringan tiroid.

Menariknya, ketika Hashimoto pertama kali melaporkan penyakit ini pada tahun 1912, konsep autoimunitas belum dikenal seperti sekarang. Hashimoto belum mengetahui bahwa sistem imun pasien menyerang kelenjar tiroidnya sendiri. Ia hanya mengamati sesuatu yang berbeda secara klinis dan terutama secara histopatologis. Penemuannya kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah ilmu endokrinologi dan imunologi.

 

Siapakah Hakaru Hashimoto?

Hakaru Hashimoto lahir pada tahun 1881 di Jepang dan kemudian menempuh pendidikan kedokteran di Kyushu University Medical School. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada tahun 1907. Pada awal kariernya, Hashimoto tertarik pada bidang bedah dan bekerja di lingkungan klinik bedah Universitas Kyushu.

Pada masa tersebut, ilmu kedokteran masih berkembang pesat. Mikroskop dan pemeriksaan histopatologi mulai memberikan kemampuan kepada dokter untuk memahami penyakit bukan hanya berdasarkan gejala pasien, tetapi juga berdasarkan perubahan struktur jaringan.

Hashimoto kemudian melanjutkan pengalaman akademiknya di Jerman. Pada periode tersebut, bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa penting dalam dunia kedokteran dan penelitian ilmiah Eropa. Pengalaman tersebut menjadi penting karena penelitian Hashimoto mengenai penyakit tiroid kemudian diterbitkan dalam bahasa Jerman.

Setelah kembali ke Jepang pada tahun 1916, Hashimoto lebih banyak menjalankan praktik sebagai dokter umum di daerah asalnya. Ia kemudian memperoleh gelar akademik dari Kyushu University pada tahun 1917. Sayangnya, perjalanan hidupnya relatif singkat. Hashimoto meninggal pada tahun 1934 pada usia 53 tahun akibat demam tifoid.

 

Penemuan Hashimoto pada Tahun 1912

Pada tahun 1912, ketika masih berada dalam lingkungan bedah Universitas Kyushu, Hashimoto menerbitkan sebuah artikel berjudul:

“Zur Kenntniss der lymphomatösen Veränderung der Schilddrüse (Struma lymphomatosa)”

Secara sederhana, judul tersebut dapat diterjemahkan sebagai “Pengetahuan mengenai perubahan limfomatosa pada kelenjar tiroid (struma lymphomatosa)”.

Dalam laporan tersebut, Hashimoto menggambarkan empat pasien perempuan dengan pembesaran kelenjar tiroid. Pada masa itu, pembesaran tiroid atau goiter merupakan kondisi yang relatif sering ditemukan. Namun, Hashimoto menemukan bahwa jaringan tiroid pada keempat pasien tersebut memiliki gambaran yang tidak biasa.

Ia melakukan pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan tiroid dan menemukan beberapa karakteristik penting:

  • infiltrasi limfosit yang luas,
  • pembentukan jaringan limfoid dan folikel limfoid,
  • fibrosis,
  • atrofi parenkim tiroid,
  • perubahan degeneratif pada sel epitel folikel,
  • serta perubahan struktur normal kelenjar tiroid.

Karena kelenjar tiroid tampak mengalami infiltrasi jaringan limfoid yang sangat menonjol, Hashimoto menyebut kondisi tersebut sebagai “struma lymphomatosa”.

Yang menarik, Hashimoto tidak sekadar menemukan adanya limfosit. Ia menyadari bahwa kombinasi perubahan histologis tersebut berbeda dari penyakit tiroid yang sudah dikenal saat itu.

 

Mengapa Penemuan Hashimoto Sangat Penting?

Saat ini kita mengetahui bahwa Hashimoto thyroiditis merupakan penyakit autoimun organ-spesifik. Sistem imun mengalami disregulasi dan menyerang antigen pada jaringan tiroid, terutama yang berkaitan dengan thyroid peroxidase (TPO) dan thyroglobulin.

Namun pada tahun 1912, konsep tersebut belum tersedia.

Dengan kata lain, Hashimoto menemukan “jejak” penyakitnya terlebih dahulu, sementara mekanisme imunologisnya baru dipahami beberapa dekade kemudian.

Penelitian pada pertengahan abad ke-20 akhirnya menunjukkan bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan pembentukan autoantibodi terhadap jaringan tiroid. Penelitian Rose dan Witebsky serta penelitian berikutnya memberikan dasar bagi pemahaman bahwa Hashimoto thyroiditis merupakan penyakit autoimun.

Hal ini merupakan contoh menarik dalam sejarah kedokteran:

Seorang dokter dapat menemukan suatu penyakit berdasarkan pola klinis dan histopatologi jauh sebelum mekanisme molekulernya diketahui.

 

Mengapa Penemuan Hashimoto Sempat Terlupakan?

Penemuan besar tidak selalu langsung mendapatkan pengakuan.

Publikasi Hashimoto pada tahun 1912 ternyata tidak langsung mendapatkan perhatian luas. Salah satu alasannya adalah artikel tersebut ditulis dalam bahasa Jerman dan diterbitkan pada periode yang tidak lama sebelum Perang Dunia I. Selain itu, penyakit yang digambarkannya relatif jarang dibandingkan dengan berbagai jenis goiter yang lebih umum pada masa tersebut.

Selama sekitar dua dekade, masih terdapat perdebatan mengenai apakah struma lymphomatosa benar-benar merupakan penyakit tersendiri atau hanya merupakan bentuk tertentu dari Riedel thyroiditis.

Barulah pada tahun 1931, Allen Graham dan E. P. McCullagh kembali membahas kondisi tersebut dan memperkuat kesimpulan bahwa struma lymphomatosa merupakan entitas yang berbeda. Mereka bahkan menggunakan nama Hashimoto dalam publikasinya.

Kemudian pada tahun 1939, ahli bedah tiroid Inggris Cecil Joll menggunakan istilah “Hashimoto's disease” dalam sebuah publikasi. Nama tersebut kemudian semakin dikenal dalam dunia kedokteran.

 

Dari “Struma Lymphomatosa” Menjadi Hashimoto Thyroiditis

Saat ini penyakit tersebut lebih dikenal dengan beberapa istilah, antara lain:

Hashimoto thyroiditis,
Hashimoto disease,
chronic lymphocytic thyroiditis, dan
chronic autoimmune thyroiditis.

Secara patofisiologi, penyakit ini merupakan proses inflamasi kronis yang menyebabkan kerusakan progresif jaringan tiroid.

Pada tahap awal, pasien dapat mengalami goiter dengan fungsi tiroid yang masih normal. Seiring berlangsungnya proses autoimun, kerusakan sel folikel tiroid dapat menyebabkan penurunan produksi hormon tiroid dan akhirnya berkembang menjadi hipotiroidisme.

Secara histopatologis, temuan klasik yang dideskripsikan oleh Hashimoto masih menjadi bagian penting dalam memahami penyakit ini, yaitu infiltrasi limfosit, pembentukan folikel limfoid, fibrosis, atrofi parenkim, dan perubahan sel epitel folikel.

 

Pelajaran dari Hakaru Hashimoto

Kisah Hakaru Hashimoto memberikan pelajaran penting bagi dunia kedokteran.

Pertama, observasi klinis dan histopatologi tetap memiliki nilai yang sangat besar. Hashimoto tidak memiliki pemeriksaan antibodi, ultrasonografi modern, CT scan, atau teknologi molekuler seperti yang kita miliki sekarang. Namun, dengan mengamati pasien dan jaringan secara teliti, ia mampu mengenali pola penyakit baru.

Kedua, penemuan ilmiah tidak selalu langsung dihargai. Penelitiannya sempat kurang mendapat perhatian selama bertahun-tahun. Namun, seiring perkembangan ilmu imunologi, apa yang diamati Hashimoto akhirnya terbukti memiliki dasar biologis yang sangat kuat.

Ketiga, kasus Hashimoto menunjukkan bagaimana ilmu kedokteran berkembang secara bertahap. Pada tahun 1912, dokter hanya dapat mengatakan bahwa terdapat infiltrasi limfoid dan kerusakan jaringan tiroid. Beberapa dekade kemudian, ilmuwan memahami adanya autoantibodi. Saat ini kita bahkan memahami peran sel T, sel B, faktor genetik, serta berbagai faktor lingkungan dalam patogenesis penyakit autoimun tiroid.

 

Penutup

Hakaru Hashimoto bukanlah orang yang menemukan istilah “autoimunitas tiroid” seperti yang kita pahami sekarang. Kontribusi utamanya adalah mendeskripsikan suatu penyakit tiroid yang sebelumnya belum dikenali sebagai entitas tersendiri.

Pada tahun 1912, ia mempelajari hanya empat pasien perempuan dan menemukan pola histopatologi yang khas. Ia menamakannya struma lymphomatosa. Lebih dari 100 tahun kemudian, penyakit tersebut dikenal di seluruh dunia sebagai Hashimoto thyroiditis.

Ironisnya, Hashimoto sendiri kemungkinan besar tidak pernah mengetahui bahwa namanya akan menjadi salah satu eponim paling terkenal dalam ilmu tiroidologi. Ia meninggal pada tahun 1934, sebelum pemahaman mengenai sifat autoimun penyakit tersebut berkembang sepenuhnya.

Kisah Hakaru Hashimoto pada akhirnya bukan hanya cerita tentang penyakit tiroid. Ini adalah cerita tentang ketelitian seorang dokter dalam mengamati sesuatu yang berbeda, keberanian untuk menganggapnya sebagai penyakit baru, dan bagaimana sebuah observasi sederhana dapat menjadi dasar pemahaman ilmiah yang bertahan lebih dari satu abad.

 

Comments