Appendisitis Akut: Operasi atau Tidak Operasi?

Belakangan ini muncul berita viral tentang pasien yang didiagnosis appendisitis atau “radang usus buntu”, tetapi berobat ke Penang dan tidak menjalani operasi. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan: “Apakah appendisitis sekarang tidak perlu operasi?”

Jawabannya: tidak sesederhana itu.

Ilmu kedokteran saat ini memang mengakui bahwa tidak semua appendisitis harus langsung dioperasi. Namun, hal tersebut hanya berlaku pada pasien tertentu dan setelah dilakukan penilaian yang tepat.

Appendisitis tidak selalu sama

Secara sederhana, appendisitis dapat dibedakan menjadi uncomplicated dan complicated appendicitis.

Pada uncomplicated appendicitis, appendix mengalami peradangan tetapi belum ditemukan perforasi, abses, gangren berat, atau peritonitis.

Pada kondisi tertentu, pasien dengan uncomplicated appendicitis dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan terapi antibiotik tanpa operasi. Pedoman World Society of Emergency Surgery (WSES) 2025 mengakui terapi nonoperatif sebagai salah satu pilihan pada pasien yang dipilih dengan tepat.

Namun, pilihan tersebut bukan berarti semua pasien appendisitis cukup diberikan antibiotik.



Kapan operasi lebih diperlukan?

Operasi, terutama laparoscopic appendectomy, tetap menjadi terapi definitif yang penting, terutama apabila terdapat:

  • perforasi atau appendix pecah;
  • peritonitis;
  • kondisi pasien memburuk;
  • sepsis;
  • gangren;
  • kegagalan terapi antibiotik;
  • atau kondisi lain yang membuat terapi konservatif berisiko.

Salah satu faktor penting adalah appendicolith, yaitu material keras yang berada di dalam appendix. Keberadaannya meningkatkan risiko kegagalan terapi antibiotik.

Artinya, terapi antibiotik memang dapat menghindarkan sebagian pasien dari operasi, tetapi bukan berarti operasi tidak akan pernah diperlukan.



Lalu kapan pasien bisa diobservasi?

“Observasi” bukan berarti pasien dibiarkan tanpa pengobatan.

Observasi berarti pasien dipantau secara aktif melalui pemeriksaan fisik, tanda vital, laboratorium, respons terhadap antibiotik, kemampuan makan, serta perkembangan nyeri dan tanda peritonitis.

Jika kondisi membaik, terapi dapat dilanjutkan. Jika kondisi memburuk, keputusan terapi harus dievaluasi kembali dan operasi mungkin diperlukan.

Karena itu, pasien yang menjalani terapi nonoperatif tetap membutuhkan follow-up yang baik.

Bagaimana menanggapi berita yang viral beberapa waktu lalu?

Tanpa mengetahui hasil pemeriksaan pasien tersebut, termasuk CT scan, kondisi appendix, ada atau tidaknya appendicolith, perforasi, abses, dan respons terhadap terapi, kita tidak dapat menyimpulkan apakah keputusan tanpa operasi tersebut benar atau salah.

Yang jelas, keberhasilan satu pasien menjalani terapi tanpa operasi tidak dapat dijadikan dasar bahwa semua appendisitis tidak membutuhkan operasi.

Sebaliknya, operasi juga tidak selalu harus dilakukan secara tergesa-gesa pada setiap pasien.

Kesimpulan

Pesan yang paling tepat untuk masyarakat adalah:

“Tidak semua appendisitis harus langsung dioperasi, tetapi tidak semua appendisitis aman tanpa operasi.”

Keputusan harus didasarkan pada kondisi klinis, hasil imaging, ada atau tidaknya komplikasi, faktor risiko kegagalan terapi, serta diskusi antara dokter dan pasien.

Tujuan pengobatan bukanlah sekadar menghindari operasi, tetapi memberikan terapi yang paling aman dan tepat untuk kondisi pasien.

Jadi, jangan menjadikan satu kasus viral sebagai standar untuk semua penderita appendisitis. Dalam kedokteran, diagnosis yang sama belum tentu membutuhkan terapi yang sama.

Comments